Minggu, Januari 16

Psikosis Ngamuk, Warga Pulau Kelapa Kocar-Kacir

Diduga menderita gangguan jiwa (Psikosis), Herman (27) warga RW 03 Kelurahan Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Utara, mengamuk secara tiba-tiba. Tak ayal, ulahnya membuat warga panik dan kocar-kacir berhamburan menyelamatkan diri.

Beruntung, tindakan bapak satu anak ini tak sampai memakan korban lantaran keburu diamankan polisi yang dibantu warga. "Sekitar tiga tahun ini, dia jadi begitu. Kadang-kadang mengamuk sendiri tanpa alasan yang jelas," ujar Istri Herman yang meminta namanya tidak disebutkan, Sabtu (15/1).

Menurut dia, suaminya bersikap seperti itu bermula setelah sembuh dari demam tinggi. "Dia sering bicara sendiri, kalau ditegur langsung marah. Bahkan, saya pernah mau dipukul, padahal hanya ditawari makan," tuturnya yang tampak syok karena sang suami merupakan tulang punggung keluarga.

Dia berharap agar Herman sembuh dari penyakitnya dan bekerja seperti dulu lagi. "Dia rajin bekerja. Saya mohon dibantu agar dia diobati. Kami sudah sudah berusaha ke pengobatan alternatif, tapi kondisinya tidak berubah," kesahnya seraya mengatakan, saat ini dirinya sudah tidak memiliki uang lagi untuk membawa sang suami ke rumah sakit.

Ketua RW 03 Pulau Kelapa, Safarudin mengatakan, tindakan tak terduga Herman ini meresahkan dan mengkhawatirkan warga. Jadi, kata dia, untuk sementara diamankan di Mapolsek Seribu Utara. "Hanya diamankan, nanti kita cari cara agar dia dapat diobati di rumah sakit," jelasnya. (Agus Salim/AF)

Selasa, Desember 22

Pemilik Ojek di Imbau Tidak Mambawa Penumpang Melebihi Kapasitas

Pemilik Ojek di Imbau Tidak Mambawa Penumpang Melebihi Kapasitas

Menjelang pergantian tahun sejumlah pulau tujuan wisata di Kepulauan Seribu diprediksi akan diserbu pengunjung. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu (Pemkab Kep. Seribu) beserta Kepolisian Resort (Polres) Kepulauan Seribu sejak dini menghimbau agar pemilik kapal angkutan tradisional (ojek) di Kepulauan Seribu tidak membawa penumpang melebihi kapasitas angkut kapal yakni maksimal 80 orang dalam satu kali keberangkatan.

"Kita sudah menghimbau agar pemilik tidak membawa penumpang melebihi kapsitas angkut kapal. Agar hal yang tidak inginkan terjadi," tegas Burhanuddin, Bupati Kepulauan Seribu, Senin (21/12). Dikatakannya, antisipasi itu dilakukan mengingat kebelakangan ini jumlah pengunjung yang akan berlibur di sejumlah pulau wisata pemukiman seperti, Pulau Untung Jawa, Pulau Pramuka, dan Pulau Harapan meningkat. Disamping pulau-pulau wisata resort.

Disamping membludaknya penumpang, himbauan ini juga dilakukan karena kondisi perairan di Kepulauan Seribu Saat ini bergelombang cukup besar. Pemilik kapal ojek harus memperhatikan kondisi alam dan tidak bernafsu meraup keuntungan besar dengan menaiki banyak penumpang. "Kita sudah bangun pos terpadu di pelabuhan Muara Angke. Petugas akan mengecek manifes penumpang saat akan berangkat. Ini merupakan tanggung jawab Pemkab dalam menjawab kebutuhan warga pada bidang jasa transportasi," kata bupati.

Himbauan Pemkab Kep Seribu ditanggapi serius oleh para pemilik kapal ojek. Mereka bersedia melaporkan kondisi kapal dan data jumlah alat keselamatan pelayaran serta berjanji akan mematuhi himbauan yang disampaikan. "Kita kelola angkutan ini sudah lebih dari lima tahun. Himbaun itu sangat baik karena kita juga tidak mau kecelakaan laut terjadi," kata Saluri (51) pemilik KM Radja usai mengikuti sosialisasi hukum pelayaran yang dilaksanakan Polres Kepulauan Seribu.

Kapolres Kepulauan Seribu, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Hero Henrianto Bachtiar mengatakan, kepolisian mengerahkan anggota untuk melakukan penjagaan di sejumlah titik keberangkatan kapal angkut penumpang. Pihaknya juga akan sekaligus melakukan pemerinksaan terhadap penumpang yang akan berangkat. "Kita juga melakukan pemeriksaan terhadap penumpang untuk menangkal perderaan narkoba yang diduga dibawa pengunjung untuk mengisi tahun baru di pulau," tegasnya.

Sejauh ini, kata Kapolres tim terpadu yang terdiri dari sejumlah unsur seperti, Kepolisian, Sudin Perhubungan, dan persatuan pemilik kapal telah melakukan pemeriksaan ulang terhadap kondisi kalayakan kapal serta perlengkapan keselamatan penumpang seperti life jacket, pelampung, dan alat pemadam kebakaran. "Kami juga berkoordinasi dengan Syahbandar Pelabuhan Muara Angke agar tidak mudah mengeluarkan surat izin berlayar (SIB) bila kapal melanggar ketentuan pelayaran," tukas Hero.

50 Atelit Gulat Pelajar DKI Jakarta Rebutkan Piala Bupati


50 Atelit Gulat Pelajar DKI Jakarta Rebutkan Piala Bupati

Sebayak 50 atelit gulat tingkat pelajar di DKI Jakarta bertanding merebutkan pila Bupati Kepulauan Seribu di Pulau Untung Jawa, Sabtu dan Minggu (19-20/12). Kejuaraan yang ke-tiga kali digelar ini cukup mendapat apresiasi warga setempat. Terbukti saat pertandingan pembukaan, Sabtu (19/12) siang warga sangat antusias menonton dan memberi dukungan saat atelit asal Kepulauan Seribu meraih angka.

Wakil Bupati Kepulauan Seribu, Natsir Sabara mengatakan, kejuaraan olahraga gulat tingkat pelajar DKI Jakarta merupakan keiatan tetap yang dilaksanakan tiap tahun oleh Pemkab Kepulauan Seribu. Tujuan kejuaraan ini yakni mencari bibit potensial dibidang olahraga yang cukup digemari di Kepulauan Seribu ini. "Selain olahraga dayung, gulat juga cukup digemari, buktinya ada beberapa atelit gulat dari sini yang berprestasi hingga tingkat nasional," ungkapnya.

Disamping itu, kata Natsir, kejuaraan ini juga sebagai langkah awal pembinaan atelit muda yang selama ini kurang mendapat kesempatan bertanding. Lebih jauh , kegiatan ini juga sebagai salah satu upaya Pemkab Kepulauan Seribu memberikan wahana apresiasi bagi remaja agar menyalurkan bakat dan kemampuannya pada aktifitas yang positif. "Remaja harus diarahkan kepada kegiatan yang positif seperti olahraga, agar tidak terjerumus pada perbuatan yang negatif seperti, menggunakan narkoba atau membuat keonaran," ujarnya.

Natsir berharap, dari kejuaraan ini membuahkan hasil yakni atelit-atelit gulat handal di DKI Jakarta dan dapat meraih prestasi di kejuaraan gulat tingkat nasional. Khusus bagi atelit Kepulauan Seribu, Wakil Bupati menghimbau agar mengerahkan potensi yang dimiliki dalam pertandingan. untuk menjadi yang terbaik "Atelit tuan rumah harus berani tampil, jangan minder dengan yang lain. Karena Kepulauan Seribu saat ini sama dan sejajar dengan wilayah kota di Jakarta," imbaunya.

Ketua Pelaksana Kejuaraan, Sofian mengatakan, kejuaraan gulat tingkat pelajar DKI Jakarta 2009 ini diikuti oleh 50 atelit dari lima wilayah kota dan satu kabupetan di Jakarta. Sistem yang digunakan perorangan yang terbagi menjadi empat kelas.  Untuk kelangsungan kejuaraan, panita bekerja sama dengan Pengcab PGSI dan KONI Kepulauan Seribu serta Pemkab Kepulauan Seribu selaku pengguna anggaran. "Untuk perangkat pertandingan, seperti wasit dan perlengkapan pertandingan kita bekerja sama dengan Platda Gulat DKI Jakarta," terangnya.

Sementara itu,  Kasi Pretasi Pelajar Dinas  Orda DKI Jakarta, Jasimi yang turut hadir mengaku bangga dengan keseriusan Pemkab Kepulauan Seribu mengadakan kejuaraan olahraga gulat meski dengan kondisi perlengkapan yang serba terbatas. Dari keseriusan itu, ia mengatakan, semestinya ada pembinaan khusus untuk cabang olahraga yang memiliki potensi atelit diwilayah ini. "Sudah saatnya cabang olahraga yang memiliki karakteristik wilayah dikembangkan, misalnya olahraga air untuk Kepulauan Seribu,. Selain itu, gulat, panjat tebing, dan tinju diperkirakan juga cocok disini," ujar Jasimi.

Terkait dengan sarana dan prasarana olahraga yang minim di Kepulauan Seribu, Jasimi mengatakan permasalahan tersebut bukan hanya ada di Kepulauan Seribu, wilayah kota lainnya pun demikian. Akan tetapi, minimnya sarana bukan berarti atelit harus tidak berprestasi. Keterbatasan itu dijadikan motivasi untuk berbuat banyak dalam kejuaraan yang diikuti. "Saya yakin, Pemprov DKI akan memberikan yang terbaik untuk masyarakat olahraga di Kepulauan Seribu, tapi semuanya harus ada skala prioritas. Jadi, masyarakat disini harus proaktif meningkatkan prestasi sejak dini," tukas Jasimi.

Kamis, Desember 3

Pola Budidaya Harus Ditanam Sejak Bangku Sekolah

Tekad Pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu (Pemkab Kep Seribu) merubah pola budaya masyarakatnya dari nelayan tangkap menjadi nelayan budidaya terus dilakukan. Untuk lebih menanamkan pola tersebut, wilayah bungsu DKI Jakarta ini mulai merambah ke bangku sekolah. Dan, Rabu (2/12) sebanyak 50 tenaga pengajar dari tingkat SD, SMP, dan SMA di Kepulauan Seribu mengikuti kegiatan Monitoring dan Evaluasi Muantan Lokal (Munlok).

"Perikanan dan wisata bahari merupakan potensi Kepulauan Seribu, generasi mendatang harus mendapat pengetahuan yang tepat dalam memanfaatkan potensi itu," ungkap Krisdianto, Sekertaris Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu dalam kegiatan tersebut.

Menurut Krisdianto, sejauh ini baru 18 persen nelayan di Kepulauan Seribu yang telah beralih menjadi pembudidaya. Padahal, dengan jumlah sekitar 12 ribu nelayan tangkap jumlah itu tidak sebanding dengan potensi ikan yang tersedia di laut Kepulauan Seribu yang saat ini telah jauh menurun. "Pola itu harus diterapkan, agar keseimbangan alam tetap terjaga, apalgi saat ini 75 persen karang di Kepulauan Seribu telah rusak," paparnya.

Selain memberikan pembelajaran tentang pola budidaya, kata Krisdianto, para siswa juga harus sudah mendapatkan pengetahuan dan teknologi (IPTEK) terutama dibidang laut dan pariwisata tentunya melalui sosilisai yang intensif. "Mengingat pentingnya hal itu, kegiatan Munlok mengenai pariwisata dan kelautan ini sudah saatnya diberikan di semua sekolah di Kepulauan Seribu", ungkap Krisdianto.

Kepala Bagian Kesejahtraan masyarakat (Kesmas) Kepulauan Seribu, Dhany Sukma mengatakan, kegiatan Munlok ini diikuti oleh semua sekolah di Kepulauan Seribu termasuk Madrasyah Ibtidaiyah dan Aliyah. Selain itu, kegiatan ini juga mengikutsertakan Dewan Pendidikan dan komite sekolah. "Diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan kualitas pendidikan utamanya berkenaan dengan pemanfaatan potensi lokal," katanya.

Jumat, November 27

Korban DBD Kembali Berjatuhan di Kepulauan Seribu


Sebanyak 31 warga Pulau Tidung, Kepulauan Seribu kembali berjatuhan terserang Demam Berdarah Dengue (DBD). Penderita terbanyak dialami oleh anak-anak dan saat ini tengah serius ditangani Suku Dinas Kesehatan setempat. Dari jumlah yang ada, lima diantaranya dirujuk ke RSUD Koja dan RS Fatmawati, Jakarta Utara karena kondisinya cukup mengkawatirkan.

“Sudah hampir 1 minggu Anak saya dirawat di rumah sakit, namun kondisi hingga saat ini belum membaik,” ungkap Rojiun Hamid orang tua Raja Ramadhan (4) warga Rt 04/03 Kelurahan Pulau Tidung, Kamis (26/11) di RSUD Koja. Ayah dari tiga orang anak ini juga menambahkan kebanyakan yang terkena penyakit Demam Berdarah di kampungnya adalah anak-anak dan balita.

Hal senanda juga diungkapkan Jamroni 30 tahun warga Rt 02/01 Pulau Tidung, hingga saat ini masyarakat menilai kegiatan fogging masih kurang maksimal. Titik-titik pengasapan sebaiknya diperluas. Fogging tak hanya dilakukan di titik tertentu saja, tapi merata. Belum ada upaya pencegahan merebabnya DBD diwilayahnya dari pihak pemerintah setempat.

“Saya tidak mau melihat jatuh korban lagi, cukup Reva Radiatul Anugrah (2) yang meningggal akibat terserang DBD,' ungkap Jamroni saat menemani anaknya yang juga dirawat di RSUD Koja. 

Sampai saat ini, suspect maupun mereka yang dinyatakan positif demam berdarah berjumlah 31 orang. Sementara itu Kasudin Kesehatan Kepulauan Seribu, Safarudin Seribu mengatakan, hasil dari pendataan Puskesmas Kepulauan Seribu Selatan, jumlah pederita DBD yakni sebanyak 12 orang, enam tengah dirawat di Puskesmas, satu di RS di RSUD Koja, dan lima telah sembuh.

"Saya tidak mendapat laporan kalau jumlahnya 31 orang. Nanti saya cek lagi ke pulau, saat ini saya lagi diklat," katanya.

Sejatinya, kata Kasudin, usai serangan DBD pertengahan tahun ini yang menewaskan Reva Radiatul Anugrah (2), pihaknya giat melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan melakukan sosialisasi pencegahan ke warga. "Kita belum bisa menditeksi dari mana sumber virus itu. Sabtu ini akan kita lakukan fogging masal," janjinya.

Berdasarkan informasi yang didapat dari Sudin Komunikasi, Informasi dan Kehumasan Kepulauan Seribu, Korban lain yang dilarikan ke rumahsakit antara lain Manda (7), Abdulah fakih (4), dan Nazril (3), ketiganya kini terbaring lemas di RSUD Koja dan RS Fatmawati.

Selasa, November 24

30 Anggota KSR PMI Kep Seribu Ikut Pelatihan Scuba Diving


Sebanyak 30 anggota korps suka rela (KSR) Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu mengikuti pelatihan penyelaman (scuba diving) selama tiga hari, Sabtu-Senin (21-23/11) di Pulau Pramuka. Dalam pelatihan itu, anggota KSR diberi pengetahuan mengenai alat-alat scuba diving dan berkesempatan memperaktikan di laut.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Yusuf Rianto mewakili Bupati Kepulauan Seribu saat memberikan sambutan dan membuka kegiatan mengatakan, anggota KSR PMI Kepulauan Seribu harus memiliki keterampilan yang lain dari anggota KSR dari wilayah lain di DKI Jakarta. "Karena wilayah kita berbentuk bahari, maka pelatihan scuba diving ini sangat tepat," ungkapnya.

Menurut dia, Pemkab Kepulauan Seribu sangat bangga dengan keberadaan KSR. Karena selain salah satu cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Kepulauan Seribu, KSR juga memiliki tugas mulia yakni melong orang lain saat terkena musibah. "Kalian adalah pemuda yang spesial, karena dengan suka rela mau membantu sesama," kata Yusuf dihadapan para anggota KSR.

Kepala Markas PMI Cabang Kepulauan Seribu, Sunaryo mengatakan, dari pelatihan scuba diving ini nantinya akan dibentuk satu tim reksi cepat yang siaga melakukan penyelamatan bila terjadi kecelakaan transportasi laut. "Sejak awal, kami ingin membentuk satu tim reksi cepat yang khusus dan sesuai dengan karekter wilayah," paparnya.

Pelatihan ini, kata Sunaryo, merupakan tahap awal dari rencana pembentukan satu tim reaksi cepat rescue scuba diving PMI Kepulauan Seribu. KSR yang memiliki kemampuan dan potensi akan terus digodok agar siap menjadi tim yang memiliki standar kualifikasi yang dibutuhkan. "Ini tidak berhenti, tahun depan kita akan ikutkan mereka untuk sertifikasi penyelaman," katanya.

Hendrik (24) salah seorang anggota KSR asal Pulau Untung Jawa mengaku tertantang dengan pelatihan scuba diving yang diikutinya. sebagai anak pulau dirinya telah memiliki dasar kuat untuk menyelam. Yang kurang adalah aturan penyelaman yang benar. "Kita sudah membunyai dasar yang kuat untuk menyelam, jadi tinggal mempelajari aturan dan tata cara penyelaman saja," ujarnya.

Dia berharap, selanjutnya dapat kesempatan ikut dalam sertifikasi karena, pelatihan kali ini masih pada tahap mengenal dan sedikit praktik. "Setahu saya, ada jenjang sertifikasi dalam penyelaman. Untuk serifikat A1 (open water) saja itu tidak mudah. Saya sangat terpacu untuk dan berharap dapat kesempatan," harap Hendrik.

Jumat, November 20

Maling Ponsel Nyaris Tewas Dihakimi Masa


Nasib apes terpaksa diderita Rohiyat alias Dayat (24) warga Kelurahan Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu maling ponsel yang nyaris tewas dihakimi masa. Dari tangan pria yang berprofesi sebagai nelayan itu polisi mengamankan empat buah ponsel berbagai merek dan dua buah alat pengisi batere ponsel atau charger pada Senin (16/11) lalu.

Saat ditemui pulauseribunews.com di kamar tahanan Polsek Kepulauan Seribu Utara, Kamis (19/11) pelaku mengaku nekat melakukan aksinya karena hasil tangkapan ikan berkurang. "Sudah beberapa bulan terakhir ini hasil tangkap ikan berkurang," ungkap pria berkulit putih tersebut yang sebagian wajah dan tubuhnya lebam membiru akibat dipukuli masa yang kesal dengan ulahnya.

Dia terpaksa melakukan aksinya karena tidak punya uang untuk menikah dengan kekasihnya awal tahun depan. "Rencananya (ponsel) mau dijual ke Jakarta," ungkapnya. Ponsel yang jadi incarannya adalah ponsel yang sedang diisi batere (charge) oleh pemiliknya.  Tidak terbatas oleh jenis atau kualitas ponsel.

Pelaku tertangkap di dermaga Pulau Dermaga, Senin (16/11) lalu sekitar pukul 06.30 saat sedang menunggu kapal. Berawal dari kecurigaan warga yang sudah menunggu pelaku untuk memergokinya. "Saat itu pelaku tertangkap basah membawa empat buah HP (ponsel) yang mau dijualnya ke Jakarta," ungkap Brigadir Asep, anggota polsek Kepulauan Seribu Utara.

Keempat buah ponsel tersebut digasak pelaku dari empat orang korban yang diantaranya pamannya sendiri. Mereka adalah Isak, seorang guru SMP yang mengaku kehilangan ponsel Nokia 6300 dan Nokia 5630. Jamil seorang nelayan yang juga pamannya juga kehilangan Nokia 73 dan Hitech, Jack yang juga nelayan kehilangan ponsel Ktouch, dan Novita Sari kehilangan Nokia 6070. "Semua itu hilang di rumah mereka masing-masing," ungkap Brigadir Asep.

Ismail, Anggota Satpol PP yang menangkap pelaku mengatakan, sejak September lalu memang  kerap terjadi kehilangan ponsel di lingkungan mereka. Dengan ditangkapnya pelaku diharapkan kejadian hilangnya ponsel dapat berkurang. "Pelaku tidak memandang bulu siapa korbannya," ungkap nya. Bahkan ponsel anaknya pun telah berhasil digasak spesialis pengutil ponsel beberapa hari lalu di rumahnya.

Menurut petugas, pelaku memanfaatkan kondisi listrik yang padam di siang hari. "Setiap malam warga memanfaatkan aliran listrik untuk mengisi batere ponsel," ungkapnya. Saat itulah pelaku bergerak mencari-cari ponsel milik warga yang ditinggal pemiliknya. Kasus pencurian ponsel ini sebenarnya jumlahnya cukup banyak, namun hanya sebagian warga yang melaporkannya ke petugas.

PKK Kepulauan Seribu Makin Mandiri


Tim penggerak (TP) PKK Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu kini semakin mandiri. Apalagi sejak mendapatkan bimbingan psikologis dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (FP-UI) sejak Juni 2009 lalu. Kini, PKK Kepulauan Seribu optimis dalam menjalankan sepuluh program pokok PKK.

"Kini mereka lebih mandiri dan optimis dalam menjalankan program-program PKK," ungkap Agustin, salah seorang psikolog dari FPUI saat acara tatap muka TP PKK Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu dengan Ketua TP PKK DKI Jakarta, Sri Hartati Fauzi Bowo, di Gedung SDN 01 Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Utara, Kamis (19/11).

Awalnya, kata Agustin, bimbingan psikologis ini kurang diminati anggota PKK. Buktinya, dalam pertemuan yang dijadwalkan dua kali dalam sebulan hanya diikuti sekitar 20 peserta. Tapi, setelah empat bulan berjalan, antusias anggota PKK semakin meningkat. "Saat ini sebanyak 60 anggota PKK telah bergabung dalam program ini. Mereka tidak lagi menggantungkan diri kepada pemerintah dan mulai berinovasi membuat usaha sendiri," papar Agustin.

Basiroh (32), seorang anggota TP PKK Kelurahan Pulau Kelapa mengaku, setelah rutin mengikuti program psikologis yang diberikan para psikolog FPUI, dirinya mulai mendapatkan kepercayaan diri lebih. "Manfaatnya kami diberikan motivasi untuk berusaha terlebih dahulu dan tidak selalu menadahkan tangan menunggu bantuan," terangnya seraya menambahkan saat ini kelompoknya telah memulai usaha kerajinan cendera mata dari komoditi laut.

Kemandian PKK Kepualauan Seribu mendapat apresiasi dari Ketua TP PKK DKI Jakarta, Sri Hartati Fauzi Bowo. Dia meminta agar anggota TP PKK Kepulauan Seribu dapat mengimplementasikan motovasi yang diberikan psikolog FPUI dalam kehidupan nyata. Selain itu, mereka juga harus mampu menularkan kepada kader PKK dan masyarakat lainnya.

"Agar program ini bermanfaat, anggota PKK yang mengikuti program ini harus menyebarkanya ke masyarakat," kata istri orang nomor satu di Jakarta ini menyambut baik dengan antusiasme TP PKK Kepulauan Seribu untuk mengikuti peogram psikologis ini.

Kamis, November 19

Gubernur Resmikan Taman Bacaan di Pulau Kelapa


Fasilitas penunjang pendidikan bagi masyarakat di Pulau Kelapa, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu bertambah dengan diresmikannya Taman Bacaan dan toko buku masyarakat di RW 04 Kelurahan Pulau Kelapa. Diharapkan kehadiran taman bacaan ini dapat meningkatkan minat baca masyarakat setempat.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengatakan, sejak dulu sebenarnya Pemprov DKI menginginkan agar masyarakat di Kepulauan Seribu ini setara dengan masyarakat di Jakarta yang ada di daratan. "Saya berharap dengan adanya taman bacaan dan toko buku masyarakat ini, kualitas pengetahuan masyarakat Kepulauan Seribu lebih baik lagi," ujar Fauzi Bowo, saat meresmikan taman bacaan tersebut, Kamis (19/11).

Sebenarnya, kata Fauzi Bowo, taman bacaan masyarakat sebelumnya sudah ada di lingkungan RW setempat. Namun karena minat baca masyarakat tumbuh dan berkembang dengan pesat, maka diperlukan lebih banyak lagi taman bacaan. "Kalau hanya mengandalkan pemerintah, peningkatan kualitasnya tidak akan bisa cepat. Karena itu perlu ada kerja sama dengan semua unsur," ungkap Bang Fauzi, sapaan akrabnya.

Format yang dimiliki taman bacaan ini, cukup bagus. Selain menyediakan buku-buku yang khusus dijual, juga tersedia buku untuk dibaca masyarakat. Jika diperhatikan dengan seksama maka keberadaan taman bacaan ini lebih modern dan berkualitas dibanding taman bacaan lainnya yang ada di pulau tersebut. Bahkan di wilayah itu kini telah disediakan perpustakaan bagi masyarakat kepulauan. "Ini hikmah dari meningkatkan status Kepulauan Seribu menjadi kabupaten," ungkapnya.

Dalam pengamatan gubernur, saat ini pengetahuan masyarakat di Kepulauan Seribu sudah semakin maju dan modern, sehingga tidak kalah dengan masyarakat Jakarta yang tinggal di kotamadya. Tentunya kesuksesan tersebut karena adanya aliran listrik di daerah tersebut. Sehingga masyarakat dapat menonton televisi untuk menambah pengetahuannya. Direncanakan pada tahun 2011, masyarakat Kepulauan Seribu Utara sudah bisa menikamti listrik selama 24 jam penuh. "Kalau listrik sudah ada hendaknya digunakan secara bijaksana, efisien, dan efektif," pinta Bang Fauzi.

Dalam kesempatan tersebut, gubernur juga memberikan bantuan dana sebesar Rp 50 juta untuk peningkatan kualitas taman bacaan dan toko buku RW 04 Pulau Kelapa ini. Sejumlah uang itu dialokasikan untuk pembelian buku guna menambah koleksi perpustakaan sebesar Rp 25 juta. Sedangkan sisanya Rp 25 juta untuk koleksi toko buku. Selain itu, gubernur juga menyerahkan beasiswa bagi siswa berprestasi di Kepulauan Seribu berupa dana sebesar Rp 500 ribu bagi siswa SMA dan perlengkapan sekolah untuk SLTP dan SD.

Sekretaris Pengurus Pusat Buku Indonesia, Upi Tuti Sundari, mengatakan, sejatinya taman bacaan sejenis itu sudah banyak di wilayah lain di Jakarta. Di Kepulauan Seribu saat ini terdapat lima taman bacaan, namun bentuknya kecil dan koleksi bukunya sudah sangat kurang. Untuk itu, Pusat Buku Indonesia akan mengembangkan konsep taman bacaan dan toko buku ini ke pulau pemukiman lainnya.

"Saat ini baru terdapat 1000 koleksi buku. Dari bantuan yang diberikan gubernur diperkirakan koleksi akan bertambah sekitar 2400 buku lagi. Untuk buku tulis yang dibeli siswa akan mendapat diskon 15 persen," katanya.

Sabtu, November 7

KLH Diminta Usut Pencemaran Kepulauan Seribu

KLH Diminta Usut Pencemaran Kepulauan Seribu Tumpahan minyak mentah (tarbal) yang mencemari perairan Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu membuat Bupati Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Burhanuddin, geram. Pantas saja Bupati Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu murka. Pasalnya, pencemaran yang diakibatkan limbah tarbal ini bukan kali pertama. Bahkan sepanjang tahun 2009, perairan Kepulauan Seribu sudah tiga kali tercemar limbah tarbal.

Karena pencemaran yang diakibat ulah orang tak bertanggung jawab ini terjadi berulang kali, bupati meminta agar tim independen dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) segera mengusut tuntas dan mengambil langkah hukum. "Tim independen dari KLH telah datang ke Kepulauan Seribu Kamis (5/11) kemarin. Nanti akan saya tagih mereka. Saya mau mereka mengusut tuntas kasus pencemaran ini dan segera mengambil langkah hukum," tegas Burhanuddin kepada beritajakarta.com, Jumat (6/11).


Tahun ini, kata Burhanuddin, sudah tiga kali terjadi pencemaran limbah tarbal. Namun, berkas kasus pencemaran yang terjadi hampir setiap tahun tak pernah diusut tuntas. sehingga, tak ada efek jera bagi pelaku pencemaran. "Berkas laporan tim pencari fakta pencemaran yang saya buat telah diteruskan ke wakil gubernur. Limbah tarbal yang mencemari pulau dalam proses uji lab guna mencari tahu asal tarbal itu. Bila sudah ada hasilnya, akan dijadikan bukti kuat. Makanya, saya mau kasus ini dibawa ke ranah hukum," ujarnya.

Selama ini, ada dua penyebab utama pencemaran di Kepulauan Seribu. Pertama, berasal dari perusahaan minyak dan kapal yang membuang residu ke laut. Kedua, pencemaran diduga karena adanya kebocoran dari pipa pengeboran minyak di lepas pantai Teluk Jakarta. "Kita harus mengetahui siapa yang mencemari Kepulauan Seribu karena pencemaran minyak ini telah merugikan banyak pihak. Bagaimana kita mau menjual pariwisata dan perikanan, kalau laut kita tercemar terus," imbuhnya.


Seharusnya, sambung dia, KLH memperhatikan kasus pencemaran di Kepulauan Seribu karena wilayah ini masih termasuk kawasan Ibu Kota Jakarta. Dengan demikian, bisa menjadi indikator serius tidaknya upaya memerangi pencemaran lingkungan. "DKI Jakarta itu kan sebagai indikator berhasil atau tidaknya pengusutan kasus pencemaran di Indonesia. Seharusnya, kasus ini cepat diusut. Kalau tidak, ya akan terus terjadi pencemaran serupa," ungkap Burhanuddin.


Sebelumnya, pada 2 November 2009, terjadi pencemaran tarbal di sekitar perairan Pulau Pramuka yang diduga berasal dari limbah pengeboran di lepas pantai Teluk Jakarta, dan pembuangan residu kapal ke laut secara sengaja. Pencemaran itu bahkan sudah mengotori pantai Pulau Pramuka yang notabene merupakan pintu gerbang Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu (TNLKS). "Memang tarbal yang mengotori pantai sudah dibersihkan warga. Namun, agar pencemaran tidak terjadi lagi, kami sangat berharap ada upaya hukum yang tegas guna dijadikan warning bagi pelaku," tandasnya.

Selasa, November 3

Warga Pulau Pramuka Bergotong Royong Bersihkan Tarbal

Tidak mau lebih lama tercemar tarbal, puluhan warga Pulau Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Utara, Kepulauan Seribu, Selasa (3/11) secara bergotong royong membersihkan hamparan tarbal yang mengotori sekeliling pantai pulau tersebut.

Kendati begitu, warga tetap mengutuk ulah pelaku yang dengan sengaja melakukan pencamaran tanpa mengindahkan dampak kerusakan lingkungan akibat zat kimia ceceran minyak mentah itu. Sejak dimulai sekitar pukul 09.00 pagi, tak kurang 100 karung ukuran 20 kilo gram berhasil dikumpulkan warga.

"Kalau menunggu tanggung jawab pelaku membutuhkan waktu lama. Akibatnya akan lebih banyak lagi biota laut yang mati. Jadi, kami bersama warga disini bergotong royong membersihkan tarbal," ungkap Salim, Ketua Forum Masyarakat Peduli Lingkungan (Formapel) Kepulauan Seribu kepada beritajakarta.com melalui sambungan telpon.

Menurut dia, untuk mengumpulkan ceceran tarbal yang telah terdampar di pasir pantai cukup mudah. Sebaliknya, warga kesulitan membersihkan gumpalan tarbal yang masih banyak mengambang di laut dan menyangkut di dahan tanaman bakau (mangrove). "Tarbal yang terdampar di pasir pantai hampir bersih, tapi yang di laut belum dibersihkan. Kita tunggu tarbal itu terdampar," papar Salim.

Sejak menjadi kabupaten delapan tahun silam, Kepulauan Seribu giat membenahi wilayah utamanya yang memiliki potensi wisata. Dan Pulau Pramuka merupakan salah satu pulau andalan wisata pemukiman selain Pulau Untung Jawa. Pantai berpasir putih yang landai di pulau ini menjadi salah satu potensi andalan selain wisata penangkaran penyu, observasi mangrove, spot pemancingan, dan spot penyelaman.

pencemaran yang terjadi di sekitar perairan Pulau Pramuka bukan hanya mengancam kelangsungan hidup ekosistem laut. Lebih jauh pencemaran itu juga mengancam tingkat kunjungan wisata ke pulau pusat pemerintahan Kepulauan Seribu ini. "Sepanjang pantai ini dijadikan wisatawan untuk mandi laut. Kalau kotor begini saya saja segen, apalagi tamu," ujar Suheli (53) warga Pulau Pramuka yang ikut membersihkan tarbal.

Kegiatan pembersihan tarbal yang mencemari pantai Pulau Pramuka sejak kemarin, Senin (2/11) di gagas Camat Kepulauan Seribu Utara, Edy Junaedi. Bersama dengan lurah dan pengurus RW setempat, camat meminta agar warga turut serta membersihkan. "Secara prosedur, kita sudah laporkan pencemaran ini ke BPLHD Kepulauan Seribu, mengingat akan lebih merugikan bila didiamkan, bersama warga kami berinisiatif membersihkan," papar Edy Junaedi.

Tarball Kembali Cemari Kepulauan Seribu

Sepertinya laut Kepulauan Seribu tak pernah lepas dari pencemaran. Kali ini, gumpalan minyak mentah (tarball) kotori sekeliling pantai Pulau Pramuka. Akibat tarbal itu, banyak ikan mati dan mangrove yang ditanam dibibir pantai terancam rusak. Warga meminta agar tarball itu segera diersihkan karena bila dibiarkan lama akan banyak lagi kerugian yang diderita.

”Kami meminta agar tarball ini dibersihkan karena sangat berbahaya dengan kelangsungan ekosistem laut dan tanaman mangrove,” kata Salim (51), Ketua Forum Masyarakat Peduli Lingkungan Kepulauan Seribu di Pulau Pramuka, Senin (2/10).

Menurut dia, pencemaran tarball yang terjadi saat ini merupakan yang ke-tiga dalam tahun ini dan hal itu sangat memprihatinkan. Untuk itu, dia berharap pemerintah kabupaten bertindak tegas dengan meminta pertanggungjawaban pelaku pencemaran. ”Selama ini, kasus pencemaran tidak pernah tuntas dan wajar pelaku seenaknya melakukan pencemaran lagi,” paparnya.

Gumpalan minyak mentah berwarnah hitam pekat nyaris terdapat disekeliling pantai Pulau Pramuka. Ikan dan sejumlah biota laut ikut mati terdampar. Gumpalan itu mulai mencair dan mengotori pasir pantai, diperkirakan jumlahnya mencapai puluhan ton. ”Banyak sekali, mungkin puluhan ton, sejak pagi sudah puluhan karung saya kumpulkan,” ujar pria yang didaulat sebagai penerima kalpataru karena kepedulian terhadap lingkungan ini.

Sairan (49), Pegawai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu (TNLKS) mengatakan, diperkirakan sumber tarball berasal dari arah timur karena saat ini angin timur dan arus laut membawa tarball ke pantai Pulau Pramuka. ”Kuat dugaan kami tarball itu dari arah timur dan kami juga sudah mengambil sampel untuk di uji lab guna mencari tahu asal tarball itu,” katanya.

Pencemaran ini, kata dia, sepertinya luas dan bukan hanya terjadi di sekitar Pulau Pramuka kemungkinan di tengah laut dan di sejumlah pulau yang berada langsung dari arah timur. ”Kami akan melakukan pemantauan di sejumlah lokasi dan kalau benar itu terjadi kami akan mengambil langkah koordinasi dengan pihak terkait untuk mengambil tindakan selanjutnya,” terangnya.

Bupati Kepulauan Seribu, Burhanudin menyesalkan terjadinya pencemaran tarbal di laut Kepulauan Seribu. Dia berharap pihak-pihak yang selama ini terindikasi melakukan pencemaran untuk segera turun tangan. ”Untuk sementara kami membersihakn secara swadaya dan selanjutnya akan meminta bantuan CNOOC. Ses Ltd. untuk membersihkan tarball itu,” ungkap Burhanuddi kepada beritajakarta.com.

Sejauh ini, CNOOC Ses Ltd. selaku perusahaan minyak lepas pantai yang beroperasi di laut Kepulauan Seribu telah berkomitmen untuk bertanggug jawab membersihkan tiap terjadi pencemaran meski perusahaan itu bukan pelaku pencemaran. ”Talah ada kesepakatan dengan perusahaan itu terkait dengan pencemaran. Tapi ini tidak sampai disitu, kami akan lakukan penyelidikan sumber pencemaran dan tidak mungkin kasus ini akan lanjutkan dangan pelaporan kepada pihak yang berwenang,” pungkas Burhanuddin.

Sabtu, September 26

Libur Lebaran, 1 Juta Orang Kunjungi TIJA

Selama libur lebaran diperkirakan angka kunjungan Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) bisa mencapai 1 juta orang. Ini terbukti, mulai hari H hingga Sabtu (26/9) jumlah pengunjung sudah mencapai angka 648.500 orang. Jumlah ini, telah melebihi target rata-rata yang ditetapkan managemen dengan 100 ribu per hari karena belum dihitung dengan jumlah pengunjung rombongan.

Dirinci berdasarkan jumlah tiket masuk, hari H lebaran (Minggu) sebanyak 64,5 ribu, Senin 140 ribu, Selasa 132 ribu, Rabu 115 ribu, Kamis 85 ribu, Jumat 55 ribu, dan hari ini Sabtu, (26/9) sampai pukul 13.00 sebanyak 57 ribu. "Kami yakin, angka 1 juta orang pengunjung mampu dicapai TIJA pada Lebaran tahun ini, karena saat ini telah terdata 648.500 pengunjung itupun belum ditambah dengan pengunjung rombongan," ungkap Sofia Cakti, Kepala Humas TIJA.

Dia memperkirakan jumlah pengunjung akan bertambah mengingat libur masih ada satu hari lagi yakni besok, Minggu (27/9). Apalagi, mulai hari ini arus balik pemudik mulai meningkat di sejumlah termnal dan stasiun kereta api. "Pemudik yang baru datang bisa saja menyempatkan diri berlibur ke sini (TIJA) sebelum memulai aktifitas kerja Senin nanti," ungkapnya.

Menurut Sofia, wahana rekreasi keluarga di TIJA seperti, Dunia Fantasi (Dufan) yang harga tiket premium sebesar Rp 120 ribu, Atlatis Rp 70 ribu, Gelanggang Samudera dari Rp 80 ribu juga ramai dikunjungi. Kenaikannya hampir mencapai 200 persen per hari. Sementara di sejumlah lokasi wisata yang dapat dinikmati hanya membayar pintu gerbang sebesar Rp 12 ribu per orang seperti, Pantai Festival, Pantai Indah, Pantai Pemandian, lokasi Bende, Pasar Seni, dan Karnaval dijubeli pengujung.

"Sepertinya TIJA masih tetap menjadi tempat favorit rekreasi keluarga. Kondisi itu juga didukung dnegan cuaca laut yang saat ini cukup bersahabat. Bila ditambah dengan jumlah pengunjung rombongan target kita 1 juta pengunjung pada libur lebaran tahun ini bisa tercapai" ujarnya.

Sementara itu, jumlah kunjungan meningkat juga terjadi di tiga pulau wisata pemukiman di Kepulauan Seribu. Seperti Pulau Untung Jawa selama libur lebaran dikunjungi tak kurang dari 3 ribu orang per hari, Pulau Lancang 7oo orang, dan Pulau Pramuka 500 orang. "Wisata bahari yang ditawarkan Kepulauan Seribu mampu menyedot pengunjung libu lebaran ini. Ini menjadi motivasi kita untuk menggiatkan lagi promosi wisata bahari di Kepulauan Seribu," ungkap Sahad Sitorus, Kasudin Pariwisata Kepulauan Seribu.

Menurut Sahad, validitas angka pengunjung di Kepulauan Seribu jauh dari tepat karena sistenm pendataan belum berjalan. Jadi, sementara ini masih menggunakan rekaan saja. "Kedepannya sistem itu harus dibenahi minimal dengan menggunakan tiket masuk ke setiap pulau yang dituju," ujarnya. Dikatakannya, bisa jadi, jumlah yang ada akan semakin meningkat bila fasilitas transportasi yang ada sekarang lebih baik lagi.

Tongkang Besi Harga 2 M Milik TNLKS Nyonggrok Tak Berguna

Sebuah tongkang terbuat dari besi yang diperkirakan seharga Rp 2 miliar milik Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu nyonggrok tak berguna di sekitar perairan Pulau Pramuka dekat lokasi budidaya ikan bandeng PT Nusa Ayu Keramba. Tongkang itu sedianya digunakan untuk tempat pemandian (sweeming pool) bagi warga atau wisatwan, tapi nyatanya tongkang itu malah tersia-siaka da bahkan keberadaanya malah menggangu jalur pelayaran kapal.

"Sayang sekali uang miliaran terbuang percuma, coba kalau digunakan untuk beli kerupuk mungkin bisa nguruk pulau," ujar Salim (41) warga Pulau Pramuka yang berprofesi sebagai tukang ojek perahu antar pulau, Sabtu (26/9) kepada pulauseribunews.com.

Menurut Salim, selain membuang uang karena tongkang itu tidak berguna, keberadaannya di jalur lintasan perahu nelayan dirasakan sangat menggangu. Untuk itu, dia berharap kalau tongkang tidak digunakan sebaiknya dipindahkan saja. "Kalau dibiarkan saja nanti berkarat, baiknya dipindahkan ke tempat lain atau dikiloin aja ke orang madura, biar ga rugi banget," kelakar Salim seraya mengisahkan pernah perahu nelayan menabrak tongkang itu pada malam hari.

Tongkang berukuran sekitar 20x10 meter persegi itu berbentuk segi empat dengan dasar terbuka. Disisinya terdapat tangga dan papan loncat. Saat ini, sebagian sisi tongkang bercat hijau yang mulai banyak terkelupas itu mulai dimakan karat. Sayangnya, saat pulauseribunews.com mengklarifikasi hal terkait, terlpon seluler Joko Prihatna, Kepala TNLKS sedang tidak aktif.

Sabtu, September 12

Warga Pertanyakan Program 100 Hari Bupati Kepualauan Seribu

Setelah dilantik sekitar Agustus lalu, kinerja Bupati Kepualauan Seribu, Burhanuddin belum terlihat nyata. Dengan begitu warga mempertanyakan apa yang akan dilakukan mantan Wakil Walikota Jakarta Barat ini dalam 100 hari kerja kedpan.

"Kita mau tau apa yang bisa diperbuat bupati baru 100 hari kedepan. Kita ingin yang dilakukannya dapat membuat kami terkesan," kata M. Salim warga Pulau Panggang yang kini menjabat Kepala SMU negeri di bilangan Jakrta Utara di Pelabuhan Muara Angke, Sabtu (12/9).

Salim mengatakan, Burhanuddin bukan orang baru di Kepulauan Seribu, dia pernah menjabat Sekertaris selama 11 bulan dan sangat tahu kondisi riil yang ada di pulau. "Dia sudah punya modal. Jadi tinggal melakukan implimentasi di lapangan. Adakah perubahanyang dilakukannya nanti," ujarnya.

Sementara itu, pentolan mahasiswa Kepulauan Seribu, Rizal menambahkan, bupati berkewajiban memiliki program kongkrit dalam 100 hari kedepan dan itu tidak perlu banyak. Yang terpenting terasa perbedaannya. "Misalnya segi pelayanan, itu harus dijadikan target bupati, karena selama ini pelayanan terhadap masyarakat pulau sangat kurang," jelas Rizal.

Rizal mengatakan, mulai saat ini Pemkab Kepulauan Seribu harus memperhatikan peningkatan SDM dan tidak lagi terfokus dengan infrastruktur yang sudah cukup terbangun. "Sudah banyak dan cukup, yang sudah ada saja tidak digunakan. Mulai saat ini harus fokus dengan SDM," tegasnya.

Pulau Pramuka Bakal Dapat Tambahan Genset

Warga Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu sebentar lagi patut bahagia lantaran listrik yang hampir sebulan hidup bergiliran akan kembali normal. Dalam waktu dekat ini, Pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu (Pemkab Kep Seribu) akan menambah genset Pulau Paramuka dengan kekuatan 500 KPA.

"Sedang kami usahakan, genset yang dari Pulau Lancang dipindah ke Pulau Pramuka," janji Burhanuddin, Bupati Kepulauan Seribu, Sabtu (12/9) kepada pulauseribunews.com.

Bupati meminta agar warga Pulau Pramuka bersabar karena proses pemindahan tengah diupayakan oleh tim khusus. Karena, pemindahan memerlukan proses koordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Energi Pemprov DKI Jakarta. "Askesmas sudah melakukan koordinasi dengan pihak yang mewenangi pasokan listrik," ternagnya.

Sementara itu, Yusuf Riyanto, Asisten Kesejahteraan Masyarakat menambahkan, pemindahan akan dilakukan pekan depan sementara proses koordinasi dengan Dinas Peridustrian dan Energi berjalan baik. "Semoga pekan depan sudah ada proses pemindahan dan warga Pulau Pramuka bisa menikmati listrik normal sebelum lebaran," kata Yusuf

Minggu, September 6

Hati-hati, di Pelabuhan Muara Angke Rawan Pencurian

Bagi anda yang hendak mengunjungi Kepulauan Seribu melalu Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara baiknya berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, pelabuhan itu saat ini rawan pencurian. Selama bulan Ramdahan ini saja, tak kurang sekitar 20 telpon seluler milik calon penumpang raib diambil pencuri.

Bahkan dua hari yang lalu, seorang warga Keluarahan Pulau Kelapa terpaksa gigit jari setelah uang sebesar Rp 34 juta raib sesaat ditinggalkan di kapal penumpang tradisional (ojek) untuk berbuka puasa.

"Di Pelabuhan Muara Angke sudah tidak aman, banyak peristiwa pencurian. DUa hari lalu saja uang milik penumpang dicuri," kata Titin (49) salah seorang pedagang minuman di Pelabuhan Muara Angke.

Menurut dia, sekitar 2o kali calon penumpang dan ABK ojek mengaku kehilangan telpon seluler. Dua orang penumpang kehilangan uang sebesar Rp 35 juta dan kehilangan emas sebesar 20 gram. "Pencurian dilakukan saat penumpang tidur, emasnya tidak terasa dipotong pencuri meski terpakai ditangan," kisah Titin.

M. Iksan (52) Nahkoda KM Satria Tirta mengiyakan bahwa saat ini Pelabuhan Muara Angke khusunya di pelabuhan untuk transportasi kapal Kepulauan Seribu rawan pencurian. Bahkan, dia mengaku juga menjadi korban. "Kami sangat berharap disini ada petugas keamanan, karena kami sudah sangat tidak nyaman," akunya.

Menurut Ikhsan, setelah berulang kali terjadi peristiwa pencurian, sejatinya telah dilaporkan ke Pos Kemanan Pelabuhan Muara Angke. Namun, anehnya petugas tidak pernah menanggapi. "Kita sudah lapor tapi anehnya mereka tidak perna menanggapi," ujarnya.

Dia sangat berharap pemerinta DKI cepat menyelesaikan pembangunan Pelabuhan Kali Adem. "Kita ingin cepat-cepat pindah kesana. Disini sudah sangat tidak nyaman," pinta Ikhsan.

Sabtu, September 5

Bupati Bakal "Gampar" PNS Pulau yang Sering Mangkir

Bupati Kepulauan Seribu, Burhanudin mengancam akan "Menggampar" pegawai negeri sipil (PNS) yang sering mangkir atau jarang ke pulau tanpa alasan kuat. Ancaman itu diutarakannya saat melepas keberangkatan Sekda Provinsi DKI Jakarta, Muhayat usai mengunjungi Pulau Pramuka, Kemarin.

"Saya akan "gampar" bila PNS pulau suka mangkir lagi dan meninggalkan pekerjaaan di pulau tanpa alasan yang kuat. Karena mereka telah mendapat tunjungan operasional untuk bertugas di pulau," ungkap Burhanudin dihadapan sejumlah wartawan di Pulau Pramuka.

Burhanudin menjelaskan, Pemkab Kepulauan Seribu masih banyak memiliki pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Sejumlah program strategis harus dilakukan oleh tenaga yang berada di instansi terkait. Jadi, tidak ada alasan PNS di Pemkab Kepulauan Seribu yang masih malas.

"Di depan banyak pekerjaan yang menunggu, listrik bawah laut, konvensasi gas, landasan pesawat tebang, pendidikan, dan lainnya memtuhkan tenaga kita untuk menyelesaikannya," ujar Bupati berharap sejumlah program strategis itu dapat dilaksanakan dalam waktu dekat ini.

Dikatakan Bupti, sementara yang menjadi prioritas Pemkab adalah program sambungan listri bawah laut untuk wilayah utara. Karena, diwilayah ini pasokan listrik menggunakan genset sudah tidak optimal. Disamping itu, dia juga menyinggung tentang pembangunan pintu gerbang Kepulauan Seribu atau dermaga sandar di Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara.

"Listrik dan dermaga sandar di Muara Angke akan menjadi prioritas kita, semoga 2010 proyek keduanya sudah bisa berjalan dan 2011 sudah bisa dimanfaatkan," harap Burhanuddin.

Salah seorang Anggota Satpol PP Kepulauan Seribu, Fauzi mengaku sangat mendukung pernyataan bupati, karena selaku orang asli pulau dia sangat berharap para PNS yang bertugas di pulau serius membangun pulau. "Kami orang asli pulau sangat berharap mereka mau serius membangun pulau. Semangat Pak bupati harus ditiru. Kami sangat bersyukur dapat pemimpin seperti dia," kata Fauzi.

Menurut Fauzi, masalah PNS pulau yang suka mangkir dan jarang datang ke tempat kerja merupakan cerita lama yang terus berulang. Padahal, Pemprov DKI sudah berbaik hati dengan memberikan mereka uang tunjungan operasional sebesar satu bulan gaji. "Memang harus diambil tindakan keras agar mereka mau berdisplin. Kita saja tiap hari tugas meski hanya menjaga gedung kabupaten yang kosong," ungkapnya.

Kamis, Juli 30

Alat Fogging Rusak Berat, Satu Balita Pulau Seribu Kembali Jadi Korban DBD

Satu bulan kebelakangan ini demam berdarah dengue (DBD) masih mengancam warga Kepulauan Seribu, setelah sepuluh anak dirujuk ke rumahsakit dan satu meninggal di Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Saat ini, DBD tengah mewabah di Kecamatan Kepualuan Seribu Utara.

Namun sayangnya, disaat kecamatan setempat berusaha mengantisifasi dengan melakukan fogging massal, alat fogging yang dimiliki rusak berat. Dari sembilan alat fogging yang ada hanya satu yang dapat digunakan sisanya rusak berat.

Camat Kepulauan Seribu Utara, Edi Junaidi, mengakui delapan dari sembilan alat fogging yang disiapkan untuk pengasapan massal ternyata tidak berfungsi. Sehingga pengasapan yang dilakukan tidak maksimal karena hanya menggunakan satu alat "Bagaimana kegiatan pengasapan berjalan maksimal jika alat fogging-nya rusak," keluhnya.

Namun begitu, camat tidak mau berputus asa. Dia akan mengusahakan meminja alat tersebut dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta melalui Sudin Kesehatan Kepulauan Seribu. "Warga sudah resah dan meminta segera dilakukan fogging massal. Saya sedang berusaha memperbaiki alat foging yang rusak dan segera meminjam ke Dinas Kesehatan," ungkap Edi di Marina Taman Impian Jaya Ancol usai menghadiri acara Isra Mi'raj di Pulau Kelapa.

Hingga saat ini, Rabu (29/7) tercatat empat balita dirujuk ke rumahsakit dan satu meninggal atas nama Siti Cahyati (3 tahun sebelas bulan), Selasa (28/7) kemarin sekitar pukul 09.00. Balita anak dari pasangan Utuy (43) dan Dahliah (32) warga RT 03/05 Kelurahan Pulau Panggang ini menghembuskan nafas terakhir setelah mengalami panas tinggi selama dua hari di rumahnya di Pulau Pramuka dan pada hari itu juga dikebumikan di TPU Pulau Karya.

Bersamaan dengan tewasnya Siti Cahyati, Egi Nugraha (13) anak lainnya juga positif terserang DBD. Beruntung Egi segera dirujuk ke RS Persahabatan, Jakarta Timur oleh Puskesmas setempat sehingga nyawanya tertolong. "Masih dalam perawatan, kata Dokter sebagian pebulu dara Egi sudah pecah, kalau telat mungkin tidak tertolong," kata Ivan (32) Paman Egi seraya masih bingung memikirkan biaya perwatan keponakannya itu.

Penulis : Khanza Salsabiela

Jumat, Juli 3

Berkat Bantuan Operasinal Nelayan, Syahrullah Jadi Saudagar Ikan

Memang belum lama bantuan operasional nelayan diberikan Pemprov DKI Jakarta bagi 1.357 nelayan di Kepulauan Seribu. Namun, Sayhrullah (43) warga Rt 03/04 Kelurahan Pulau Panggang tahu betul memanfaatkan bantuan tersebut untuk meningkatkan keuntungan usahanya. Pengusaha jual beli ikan ini membelikan Rp 2.340.000 uang batuan yang diterima selama tiga bulan dengan 200 unit boks penyimpanan ikan. Dengan boks itu, dia bisa mengirim ikan langsung ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Muara Angke, Jakarta Utara.

"Ikan yang didapat para nelayan saya beli dengan harga yang berlaku di pulau. Lalu, dengan boks yang diberikan es, ikan-ikan tersebut dijual ke TPI Muara Angke," ungkap Syahrullah saat berbibcang dengan beritajakarta.com di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, Jumat (4/7). "Harga ikan di TPI naik hampir 60 persen, di potong biaya pengiriman saya mendapat untung sekitar 40 persen tiap jenis ikan yang terjual,' tambahnya.

Menurut nelayan yang telah banting stir menjadi pengusaha jual beli ikan ini, dari 200 unit boks yang dibeli dari uang bantuan kini telah bertambah menjadi 450 unit boks dan tiap harinya dia mampu mengirim ikan tangkapan nelayan hinggga 160 boks ke Muara Angke. "Kalu modal untuk beli habis, saya bisa mengambil ikan dulu dari nelayan. Setelah ikan kiriman terjual, uang mereka saya bayar. Jadi, kami usahakan saling percaya," katanya.

Dari keberhasilan usaha yang diperolehnya saat ini, Syahrullah tetap memendam obsesi untuk lebih meningkatkan pendapatannya. Selain itu, ia juga ingin nelayan yang menjadi rekan usahanya turut sejahtera. "Sebelum ini, mereka menjual ikan dengan cara langsung ke warga, harganya kurang bagus. Tapi setelah, menjual ke saya harga sedikit lebih baik. Bahkan, 10 nelayan tersebut juga berkat bantuan operasional dari provinsi," terangnya.

Dengan itu, syahrullah berharap Gubernur Provinsi DKI Jakarta kembali mengucurkan bantuan untuk nelayan. "Waktu Pa Gubernur ke Pulau Panggang saya bilang ke dia banyak terimah kasih karena bantuan operasional nelayan yang pertama kali ada itu sangat membantu," seraya menirukan ucapannya saat bersua muka dengan Fauzi Bowo saat berkantor di Kelurahan Pulau Panggang belum lama ini. "Dia (Gubernur. red) bilang mau bantu lagi kalau APBD DKI Jakarta 2009 ini ada alokasi untuk itu," lanjutnya.

Untuk diketahui, pada 28 Desember 2008 lalu Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui Wakil Gubernur Prijanto menyalurkan bantuan bagi 3.010 nelayan untuk biaya operasional selama tiga bulan. Bantuan yang diterima nelayan bervariasi, tergantung dari kapal yang digunakan. Setiap nelayan mendapat bantuan biaya operasional masing-masing Rp 921.600, Rp 1.728.000, Rp 2.340.000, dan Rp 3.456.000 per bulan.

Dikesempatan itu, wagub menjelaskan, bantuan sosial ini diserahkan kepada nelayan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga nelayan mengingat kebutuhan operasional melaut cukup tinggi. Bantuan sosial ini diharapkan bisa membantu perekoniman para nelayan. Enam bulan berlalu, sejumlah nelayan Kepulauan Seribu yang menerima bantuan meningkat perekonomiannya. Bahkan , Syahrullah yang sebelumnya hanya nelayan tangkap biasa sekarang telah menjadi saudagar ikan yang mampu mengatongi keuntungan hingga 10 juta per bulan.

Pengikut

beritapulauseribu.com

beritapulauseribu.com
Website Berita & Wisata Kepulauan Seribu